assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

makanan sunda

RINGKASAN
Dari sekitar 80 jenis Makanan Sunda, lebih dari 65% terbuat dari tumbuh-tumbuhan, sedang sisanya terbuat dari ikan dan daging. Sehingga setelah ada penambahan bumbu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, maka nilai organoleptik (antara lain rasa dan aroma) makanan akan menjadi lebih menarik. Juga kandungan gizi dan nutrisinya sangat baik untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Serta lebih jauhnya lagi akan dapat menghindari, mengatasi dan bahkan menyembuhkan berbagai jenis peyakit berbahaya.
Penyiapan bahan-bahan menjadi makanan, ada yang dilakukan secara fisik (ditumbuk, dicampur, dimasak), secara kimia (penambahan asam cuka) ataupun secara biologis (proses fermentasi, baik alkoholik misal pada pembuatan tape, ataupun secara non-alkoholik, misal pada pembuatan asinan)
Yang menjadi kendala mengapa Makanan Sunda tidak dapat mendunia seperti halnya Kentucky Fried Chicken, Hamburger, Pizza, Ommelet, Hotdog, Jimsum, Tempura dan sebagainya, karena sepenuhnya belum ada Sentuhan dan Kreativitas Seni serta Budaya dalam bentuk pengemasan, pemberian hiasan, penyajian dan pola hidang, seperti halnya makanan-makanan yang saat ini sudah menguasi pangsa pasar dunia tersebut.
PRAKATA
MAKANAN SUNDA termasuk di dalamnya “Lalab dengan Sambalnya”, merupakan budaya dan kehidupan masyarakat di kawasan Pasundan, yang sudah memiliki sejarah dan perjalanan panjang sejak nenek moyang atau karuhun Sunda dulu. Kalau kemudian setiap Urang Sunda yang banyak mengembara keberbagai tempat, kerinduannya terhadap makanan tersebut tidak akan luntur karena tahun terus berlalu, atau berkurang karena perjalanan kehidupan yang panjang ataupun karena lingkungan tempat hidupnya sudah jauh berbeda.
Seperti apa yang terjadi pada Cep Didi asal Parigi dan Ujang Tarma asal Singaparna, atau Neng Uum asal Panjalu dan Nyi Imas asal Ciomas. Walau sekarang sudah menjadi penghuni kawasan elit Pondok Indah di Jakarta yang identik dengan status mereka sebagai direktur bank dan manajer perusahaan impor-ekspor terkemuka, atau istri pejabat tinggi dan konglomerat kaya, yang kalau makan siang ataupun makan malam bersama kolega-bisnisnya di rumah makan hotel berbintang terkenal, tetapi kegemaran dan kerinduannya terhadap Makanan Sunda, tidak akan luntur karena tahun berlalu, atau berkurang karena perjalanan panjang jaman. Sehingga pada hari-hari libur tertentu harus menyempatkan diri mengunjungi salahsatu rumah makan ka-Sunda-an sekitar Senayan, atau sengaja pergi ke Bogor, Puncak, Cianjur bahkan Bandung, untuk memuaskan hasrat hatinya dan kerinduannya terhadap warisan budaya dan kehidupannya.
MAKANAN SUNDA
Untuk menghasilkan ramuan (formula) makanan bukan pekerjaan tanpa pengalaman. Apalagi kalau makanan tersebut pada akhirnya dapat merajai dunia.
Suatu jenis makanan akan diakui keberadaannya oleh pangsa pasar yang luas, serta diterima oleh lidah para pengguna, ditentukan oleh beberapa faktor penentu antara lain nilai organoleptikmakanan tersebut, yang meliputi rasaaroma dan penampilan.
Rasa dan aroma makanan, ditentukan oleh bahanbaku, penambahan bumbu penyedap serta proses pengolahan. Sedang penampilan ditentukan oleh kreativitas desainer untuk merancang bentuk dengan komposisi warna menarik dan pengemasannya. Sehingga suatu produk akan luas edaran bisnisnya  dan diterima oleh konsumen dari banyak tempat/negara, tergantung kepada kepakaran para ahli teknologi makanan untuk meramu dan memasaknya, serta kepada kreativitas para ahli desain produk untuk mengemas secara menarik dan menghidangkannya.
Inilah salah satu contoh di manajemen teknologi makanan yang berbasiskan kerja – simbiosa – mutualistik antara pakar teknologi dan pakar seni dan desain, sehingga menghasilkan suatu produk bermutu di bidang sumber gizi/nutrisi dan di bidang produk untuk pemasaran, sehingga sendi-sendi kreativitas teknologi dan seni – budaya, menyatu dan berkiprah bersamaan.
Dari masalah dasar inilah kalau kemudian terungkap mengapa produk makanan suatu negara dapat menguasai pasar dunia, seperti yang sekarang terjadi di Indonesia : Ada hot dog, ada hamburger, ada spaghetti, ada maiyonase, ada karee, ada kebab, ada sukiyaki, ada chinchaluk dan sebagainya yang kesemuanya berasal dari benua Amerika, dan beberapa negara di benua Eropa, dari India, Jepang, dari negara Timur Tengah, dari Korea Selatan dan sebagainya.
Padahal dari segi gizi (terkait dengan kesehatan) dan nutrisi (terkait dengan kebugaran) jenis-jenis makanan asing tersebut yang sekarang sepertinya sudah menjadi penghuni Indonesia, tidak akan melebihi makanan ka-Sunda-an yang sudah banyak diperdagangkan. Bahkan banyak diantara makanan Sunda tersebut yang sudah diakui nilainya sebagai makanan yang enak, gurih, dan memiliki rasa serta aroma memikat. Ambilah contohnya lalab-sambel, ikan bakar, cobek, pepes/pais ikan, lotek, rujak, soto, laksa, sampai ke sambal sekalipun.
Salah satu penyebab mengapa jenis-jenis makanan tersebut kurang populer di negri orang, antara lain yaitu masalah pengemasan yang menarik, masalah kualitas yang dapat dipercaya. Sehingga kalaupun dijadikan oleh-oleh ke negaranya, tidak akan ada kendala atau apalagi menjadi rusak. Dari pengalaman panjang produk makanan Indonesia yang sekarang sudah dapat mengisi pangsa pasar setempat di suatu negara, seperti antara lain dodol garutwajit cililinikan asap bahkan sampai ke tarasi sekalipun, yaitu bahwa masalah pengemasan yang menarik dan tidak rusak selama perjalanan, juga masalah kualitas (khususnya terkait dengan keselamatan produk) tidak akan bermasalah karena perjalanan dan selama pengangkutan. Atau karena adanya perubahan cuaca di negara tujuan.
Yang perlu untuk dibanggakan adalah bahwa umumnya bahanbaku pembuatan makanan Sunda selalu termasuk kepada program “4 sehat dan 5 sempurna” yang terdiri dari sumber karbohidrat tinggi (biji-bijian, umbi-umbian dan sebagainya), sumber protein tinggi (ikan, biji-bijian dan daging), sumber vitamin dan mineral tinggi (seperti sayuran dan lalab) serta sederet bahan yang pada saat ini banyak diharapkan kehadirannya untuk kesehatan dan kebugaran, seperti antara lain Omega-3 (dari ikan), anti-oksidan (dari buah-buahan), anti-kanker dan HIV-AIDS (dari sayuran dan jamur) sampai ke peningkat gairah seksual sekalipun (dari lalab-lalaban) dan sebagainya.
Paling menarik adalah masalah tempe (walau produk ini bukan hanya milik/berasal dari lingkungan kehidupan Urang Sunda saja, tetapi umum untuk suku bangsa di pulau Jawa), yaitu bahwa kalau biji kedele dianalisa, maka senyawa berkhasiat yang ada di dalamnya terdiri dari sekitar 5 macam, yaitu : Protein, Lemak, Karbohidrat, Mineral dan Vitamin. Tetapi setelah diproses menjadi tempe senyawa bermanfaat yang ada di dalamnya terdiri dari sekitar 9 macam, umumnya memiliki khasiat sebagai obat, seperti : Protein, asam amino, mineral, vitamin, lesitinantibiotikaantivirusanti-oksidanzat pengatur tumbuh, dan sebagainya. Sehingga kalau tempe secara rutin dikonsumsi, maka si pemakan minimal akan terhindar dari beberapa penyakit berbahaya masa kini, seperti jantung koroner, infeksi bakteri/virus, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar